Kecantikan diantara Ketidakaturan
Rasa bosan terhadap satu hal tak
jarang menggiring kita untuk menjelajahi hal lainnya. Dan setidaknya itulah
yang terjadi pada diri saya hingga menemukan keasikan tersendiri dengan
fotografi kubisme.
Bagi saya, fotografi jenis ini merupakan sebuah
upaya menghadirkan kejutan-kejutan melalui proses pemotretan yang berulangkali
pada sebuah bidang kecil dalam sebuah lanskap yang luas.
Banyak ketidaksempurnaan kita dapatkan,
terutama saat kita merekam subyek yang penuh dengan keramaian seperti pasar,
misalnya. Dengan pola pengambilan gambar di bidang-bidang kecil ini, setiap
subyek yang terekam dalam detik itu akan sangat berbeda dengan detik
berikutnya. Potongan-potongan inilah yang akan menjadi sebuah cerita, serta
memperkaya rentang waktu dan ruang yang kita rekam saat itu.
Di Luar Dugaan Fotografi kubisme
sangat menarik bila kita terapkan saat memotret bangunan berciri khas atau
pusat keramaian. Semakin ramai, semakin sulit dan menarik, dan hasil yang didapat
akan semakin tidak terduga.
Foto-foto yang dihasilkan juga akan
memiliki distorsi yang unik karena tingkat kelebaran yang tidak biasa, dan
memiliki karakter yang berbeda dari foto-foto lebar yang dihasilkan lensa
ultra-wide atau fish-eye. Kita bahkan perlu berpikir keras untuk menyambungkan
setiap potongan dan bagian dari foto yang kita miliki, untuk menjadi sebuah
kesatuan yang utuh. Inilah keunikan fotografi kubisme yang dinanti-nanti –
hasil yang selalu di luar dugaan!
Tripod Kokoh Proses
produksi biasanya dilakukan dengan pemilihan subyek yang sangat khas dan
memiliki keunikan tersendiri. Konsep foto yang dibuat akan menentukan hasil
akhir.
Misalnya, ketika memotret Plengkung Gading di
Alun-Alun Selatan Yogyakarta, konsep keluasan
dan ekspos terhadap trotoar merah menjadikan foto ini tampak begitu lebar dan
memiliki distorsi yang unik. Sementara, beberapa kendaraan yang lewat hanya
menjadi aksentuasi belaka.
Tripod yang kokoh menjadi sentral dalam produksi
foto kubisme. Sedikit pun tripod tidak boleh bergerak dan bergeser, baik posisi
maupun ketinggiannya pada saat kita memotret. Sekali kita menggeser posisinya
atau mengatur ulang ketinggiannya, maka foto-foto awal yang kita ambil akan
sulit disatukan.
Focal Length Tetap Begitu pula
dengan focal length lensa. Disarankan menggunakan lensa fix agar focal length
tidak bergeser/berubah; perlu hati-hati bila kita menggunakan lensa zoom,
jangan sampai focal length-nya berubah pada saat pengambilan gambar. Jika kita
sejak awal menggunakan focal length 70mm, maka seluruh foto yang diambil harus
menggunakan rentang yang sama.
Kenapa focal length tak boleh berubah?
Ini dimaksudkan untuk memberikan rasio yang sama antara gambar satu dengan
dengan lainnya, sehingga lebih mudah untuk disatukan. Focal length ini juga memberikan
luas cakupan setiap gambar yang kita ambil; semakin lebar lensa, semakin
sedikit foto yang dibutuhkan untuk membuat foto kubisme, dan sebaliknya.
Tak Ada BatasBerapa banyak foto
yang diperlukan untuk membuat sebuah karya foto kubsime? Tak bisa dipastikan.
Foto kubisme tidak ditentukan oleh jumlah foto yang diambil, tapi oleh konsep
yang ditentukan sejak awal.
Kadang kita hanya memerlukan sekitar 5-10
foto untuk merekam sebuah ruang kecil dalam rentang yang sempit. Namun kali
lain, kita akan menghabiskan hingga lebih dari 1500 jepretan untuk merampungkan
sebuah frame utuh; bahkan bisa saja lebih dari itu. Tak ada batasan dalam hal
jumlah foto.
Ditata Secara Manual Menyatukan
ratusan bahkan ribuan foto-foto kecil ini menjadi sebuah foto utuh, menjadi
keasikan tersendiri. Pasalnya, semua disatukan secara manual, tanpa software
otomatis untuk menyatukan foto.
Penggunaan Adobe Photoshop ditujukan semata untuk
membuka sebuah kanvas putih besar, yang akan menampung semua foto menjadi
sebuah foto yang ditata satu demi satu. Bak bermain puzzle, kita akan selalu
tertantang untuk menyelesaikan foto yang kita buat secepat mungkin, meski
terkadang energi tak mengizinkan.
Kehidupan Tak SempurnaLalu,
bagaimana kita memastikan bahwa semua foto yang kita miliki sudah mencakup
semua bagian yang kita butuhkan? Tak perlu dipastikan. Dirangkai saja apa yang
ada, dan satukan apa yang kita miliki.
Bagian yang bolong adalah sebuah
representasi dari kehidupan kita yang tidak sempurna. Lubang yang muncul itu
akan menjadi keindahan tersendiri jika kita bisa melengkapinya dengan potongan
foto lainnya.
Pada akhirnya, lewat fotografi kubisme,
saya mencoba memberi sebuah gambaran kehidupan manusia dan karya-karya mereka
secara utuh lewat pecahan-pecahan cerita kecil; pecahan-pecahan yang seringkali
tak tersambung sempurna. Namun inilah hakikat kehidupan manusia:
ketidaksempurnaan. Lewat tutur gambar yang tidak sempurna inilah saya melihat
sebuah keindahan yang berbeda.
Aji Wihardandi,Photographer, senior editor at Mongabay Indonesia (www.mongabay.co.id).