LIGHTING OUTDOOR PHOTOGRAPHY
Mengenal Karakter Cahaya Untuk Portraiture Outdoor
Kita semua paham, bahwa cahaya (light)
adalah sahabat yang harus betul-betul dimengerti oleh setiap fotografer. Tidak meng-enakan
memang, jika bersahabat tanpa bisa dimengerti. Tapi jangan salah, sekali kita
mengerti sahabat kita yang satu ini, dia akan memberikan hasil yang mampu
membuat kita terkagum-kagum, betapa indahnya foto yang telah kita buat.
Berbicara tentang cahaya alam (outdoor lighting) tidak akan
terlepas dari tiga hal, yaitu:
(1) warna cahaya, (2) intensitas cahaya, dan (3) arah
cahaya.
Tetapi sebelum kita melangkah lebih jauh, saya mau membatasi
tulisan ini, kepada pengaruh ketiga hal itu untuk pemotretan orang (portraiture)
tanpa menggunakan bantuan alat tambahan, seperti reflector, screen atau flash
lighting. Tulisan ini juga tidak ditujukan untuk pemotretan landscape,
human interest ataupun genre fotografi lainnya, meskipun prinsip-prinsip
yang dipakai mempunyai kesamaan.
Pembatasan ini saya fikir penting agar kita bisa fokus pada
pemahaman, pengaruh apa yang dihasilkan olehnya dan bagaimana memanfaatkannya. “Memanfaatkannya”
berarti bagaimana kita memposisikan orang sebagai subject utama foto
kita pada posisi yang tepat relatif kepada matahari sebagai sumber cahaya
utama, sehingga apa yang kita inginkan atau yang kita imajinasikan dari
pemotretan ini bisa didapat secara memuaskan.
(1) WARNA CAHAYA
adalah spetrum warna yang melekat bersama gelombang cahaya
sehingga memantulkan warna tertentu pada subject yang terkena cahaya tersebut.
Pada pagi dan sore hari pantulan cahaya matahari pada subject akan meninggalkan
warna kemerahan ketika tertangkap oleh kamera. Sedangkan, pada siang hari,
cahaya matahari yang terpantul pada subject akan meninggalkan warna abu-abu.
Kondisi ini bisa digambarkan pada skema 1.
Skema 1. Warna cahaya pada rentang satu hari.
Dari skema 1 jelas terlihat perubahan
warna cahaya dalam rentang satu hari, Fajar berwarna merah didapatkan ketika
matahari berada di batas horizon, antara jam 5 sampai jam 6, warna pagi
cenderung orange berkisar antara jam 6 sampai jam 8, warna menjelang siang agak
kekuningan berkisar antara jam 8 sampai jam 10 dan warna siang cenderung
abu-abu antara jam 10 sampai jam 14. Lalu warna kembali berubah seperti semua
dalam rentang waktu yang kira-kira sama ke arah malam hari lagi. Beberapa
contoh foto berikut mungkin bisa memperkuat perbedaan warna cahaya yang terjadi
pada rentang waktu tersebut. namun karena keterbatasan foto yang saya miliki,
tidak semua bagian dalam rentang waktu tersebut yang bisa diberikan
contohnya.
Gambar 1, foto diambil pagi hari, sekitar jam 7, bisa kita
lihat dari bayangan yang tercipta bahwa cahaya matahari langsung mengenai
subject dan meninggalkan warna agak oranye.
Gambar 2 di ambil siang hari, warna yang tercipta terlihat agak
abu-abu dan sedikit pucat .
gambar 3 diambil pada sore hari sekitar jam 5 sore hari, cahaya
matahari tidak langsung mengenai subjek tetapi warna yang ditinggal tetap agak
kemerahan.
Dalam fotografi, warna yang agak kemerahan dikenal dengan warna
hangat (Warm) sedangkan warna yang agak kebiruan dikenal dengan warna dingin
(Cool). Warna yang tertinggal tersebut sejatinya bisa dinetralisir dengan
penggunan filter atau White Balance, tetapi ada sebagian fotografer yang lebih
senang terlihat apa adanya karena cast warna tersebut memberikan mood
tersendiri bagi fotonya.
(2) INTENSITAS CAHAYA
Intensitas cahaya berhubungan dengan keras atau lembutnya
cahaya. Semakin tinggi matahari bersinar maka akan semakin keras cahayanya dan
kondisi ini akan membuat perbandingan antara cahaya langsung yang memantul pada
subject yang menghasilkan bidang terang (Hightlight) dengan bayangan yang
dihasilkan (Shadow) akan semakin tinggi rasionya. Atau dengan kata lain semakin
keras bayangan yang dihasilkannya. Sebaliknya semakin rendah matahari bersinar
maka akan semakin lembut cahayanya dan dengan sendirinya rasio highlight dengan
shadow akan semakin kecil. Semakin tinggi rasio antara shadow dan hightlight
maka akan semakin riskan foto kita, karena salah satu di antaranya, entah itu
highlight atau shadow harus kehilangan detailnya dan ini sangat tergantung
dengan dynamic range camera yang kita gunakan.
Saat matahari rendah kita bisa langsung
memotret orang dengan langsung terkena sinar matahari tetapi pada saat matahari
tinggi kita tidak akan bisa menghasilkan foto yang bagus tanpa menggunakan
peralatan tambahan, atau dengan menempatkan subject berada dibalik sesuatu
seperti pohon atau atap sehingga cahaya matahari tidak langsung mengenai
subject atau bisa dengan menunggu datangnya awan. Awan bisa berfungsi sebagai
softbox besar yang membuat cahaya menjadi sangat lembut yang merata namun foto
akan terasa datar/flat.
(3) ARAH CAHAYA
Arah cahaya berhubungan dengan datangnya
sumber cahaya mengenai subjek foto, berhubungan dengan penempatan subject pada
datangnya sinar matahari. Arah cahaya sangat berhubungan dengan intensitas
cahaya karena pada cahaya yang terlalu keras kita tidak bisa menempatkan
subject secara langsung terhadap sinar matahari karena kontrasnya terlalu
tinggi, artinya harus ada bagian entah itu shadow atau highlight yang
dikorbankan.
Pada
Gambar 4, kita lihat efek yang dihasilkan oleh intensitas cahaya yang keras
dari sinar
matahari
yang sudah cukup tinggi, cahaya tersebut membentuk bayangan hitam yang
menghalangi
sebagian wajah dan terutama mata, disamping expresi silau yg diperlihatkan
oleh
orang tersebut.
Pada
Gambar 4A, kondisinya kurang lebih sama, hanya pada foto ini untuk mengurangi
shadow pada muka maka exposure
harus dinaikan, akibatnya foto secara keseluruhan menjadi Over Exposure. Dapat kita lihat, pada
kondisi seperti itu, foto yang dihasilkan sungguh tidak nyaman untuk
dinikmati.
Sekarang
kita lihat pada foto 5, foto tersebut diambil pada lokasi yang sama dengan foto
4 dan pada waktu yang berdekatan, tetapi saat foto ini diambil, ada awan
menutupi matahari sehingga cahaya menjadi merata dan lembut. Perhatikan, tidak
ada lagi shadow yang keras seperti pada gambar 4, seluruh bagian subject
dikenai cahaya yang sama sehingga hampir tidak ada shadow yang tercipta.
Pada
gambar 7, masih pada lokasi yang sama dan waktu yang juga hampir bersamaan,
tetapi subject dipindahkan ke bawah dinding sehingga cahaya matahari tidak
langsung mengenainya, bayangan keras tidak lagi terlihat.
Gambar
8, memperlihatkan ketika matahari sore, meskipun subject terkena langsung oleh
cahaya matahari namun bayangannya tidak terlalu keras sehingga bisa ditolerir
dan masih masuk ke dalam range rasio
shadow/highlight
MEMANFAATKAN SUMBER CAHAYA MATAHARI SEBAGAI MAIN LIGHT UNTUK
PORTRAIT
Setelah mengetahui karakter cahaya
tersebut, maka langkah selanjutnya adalah memanfaatkannya untuk membentuk light
pattern (efek pencahayaan) untuk pemotretan orang (portraiture). Light
pattern hanya akan tercipta jika ada cahaya utama yang mengarah langsung ke
subject. Cahaya yang rata akibat kondisi berawan, tidak akan menghasilkan light
pattern. kalau dipersingkat maka formulanya akan seperti ini: Light pattern bisa
tercipta jika rasio Highlight/Shadow 1:2 atau lebih, kondisi flat berarti
rasionya 1:1. Seperti yang kita ketahui, dalam pemotretan orang ada beberapa
jenis efek pencahayaan, yang dibagi berdasarkan arah jatuhnya cahaya yang
membentuk bayangan pada wajah, yaitu:
1. Loop lighting
2. Rembrant lighting
3. Split lighting
4. Butterfly/Glamour Lighting
5. Back lighting
Kelima efek itu bisa saya gambarkan ke dalam diagram berikut
ini:
LOOP LIGHTING, cirinya adalah terjadinya bayangan
hidung yang jatuh di atas bibir dan tidak menyatu dengan bayangan pipi, jenis
pencahayaan ini dapat digunakan pada wanita maupun pria. Catatan: Untuk
anak-anak pria dan wanita tidak menjadi soal.
Efek pencahayaan ini bisa di dapat dengan memposisikan diri kira-kira
45-50 derajat dari arah datangnya matahari dan posisi matahari kira-kira sudah
lewat kepala (lihat skema).
Pada
gambar 9 atau 9A, bayangan terbentuk halus akibat cahaya yang mengenainya tidak
terlalu keras, tapi masih bisa kita lihat bayangan hidung jatuh di atas bibir
dan tidak menyatu dengan bayangan pipi.
Pada
gambar 10, kondisi bayangan terlihat lebih tegas karena cahaya yang mengenainya
lebih keras dari gambar sebelumnya.
REMBRANT LIGHTING, cirinya adalah bayangan membentuk
segitiga di bawah satu mata, jenis pencahayaan ini lebih sering digunakan pada
pria karena bisa memberikan kesan maskulin dan sedikit misterius. Efek
pencahayaan ini bisa didapat dengan memposisikan diri kira-kira 60-70 derajat
dari arah datangnya matahari dan posisi matahari kira-kira sudah lewat kepala.
gambar
11 bayangan yang terbentuk cukup tegas sehingga bisa dilihat dengan jelas
(segitiganya)
Gambar
12/12A bayangan yang terbentuk sangat halus akibat cahaya yang tidak terlalu
keras
SPLIT LIGHTING, cirinya adalah sebagian wajah berada
dalam bayangan yang membelah wajah tepat di tengah. Jenis pencahayaan ini
biasanya digunakan pada pria atau untuk mendapatkan efek dramatis. Efek
pencahayaan ini bisa didapat dengan memposisikan diri kira-kira 90 derajat dari
arah datangnya matahari dan posisi matahari kira-kira sudah lewat kepala.
BUTTERFLY LIGTHING atau sering disebut glamour atau
kadang dikenal dengan Hollywood light pattern. Pencahayaan ini membentuk
bayangan seperti kupu-kupu di bawah hidung, biasanya digunakan untuk wanita
dengan makeup yang sudah sempurna, artinya contour muka didapat dari penggunaan
makeup dan bukan dari lighting. Untuk mendapatkan efek ini, posisikan subject
berhadapan dengan matahari saat matahari berada di atas kepala. Gambar 15/15A
memperlihatkan bayangan di bawah hidung yang membentuk kupu-kupu. Contour wajah
yang terlihat dalam foto ini adalah hasil dari makeup yang dilakukan dan bukan
dari efek cahaya.
BACK LIGHTING, memberikan pencahayaan dari belakang
hingga batas bagian belakang menjadi berkilau, back lighting biasanya digunakan
untuk memisahkan subjek dengan Back Ground. Semakin rendah intensitas cahayanya
maka akan semakin seimbang exposure yang terjadi antara BH dengan subjectnya.
Gambar 16 memperlihatkan intensitas cahaya yang lebih tinggi
daripada gambar 17. Terlepas dari semua bahasan di atas, yang lebih utama
adalah kreatifitas fotografernya sendiri dalam memanfaatkan cahaya sebagai
modal utama foto. Tulisan ini hanya berfungsi sebagai panduan, bahkan pengenalan
bagi rekan-rekan yang baru terjun di dunia fotografi agar saat melakukan
pemotretan lebih mempunyai landasan dan tidak sekedar jeprat-jepret saja.
Semoga bermanfaat. []
oleh Erwin Rizaldi, Professional Photographer
Indonesia